Persahabatan yang hingga kini tidak kumengerti maknanya. Mungkin teman saja sudah cukup. Tidak perlu bersikap berlebihan seolah-olah akan memberikan segalanya kepada manusia yang kau panggil “sahabat” itu.
Aku tidak memiliki satu kepala pun aku rasa. Manusia yang disebut makhluk sosial, tapi juga yang ditakdirkan sendiri. Sendiri itu kadang buruk, tapi selalu baik.
Satu sentimeter dari kasurku tidak ingin kubagi dengan siapa pun. Rasa cinta yang juga tidak kumengerti tidak mampu menjelaskan kesendirian yang terasa begitu ramai. Hiruk pikuk di dalam pikiran yang egois ini menegangkan. Memecahkan keheningan depan mata dan membubarkan kenyamanan di balik telinga.
Manusia butuh teman, tapi tidak pantas mendapat kepura-puraan pengertian yang sebenarnya tidak ada. Tidak ada yang benar-benar paham, hanya mengerti saja. Empati dan simpati lebur menjadi lelehan kehampaan dan kebingungan yang ternganga menantang menghadap pemiliknya.
Sahabat itu mungkin memang tidak ada, jika ada, semuanya itu semu, sementara, bahkan mungkin ilusi semata, dua mata.
- bukan siapa-siapa